Geluti Keramba Terapung, Ikannya Dicari Hingga Mancanegara 

48
Akip (Fahmi Fajri/Bontang Post)

 

Kisah Inspiratif Warga Bontang: Akip (131)

Potensi laut di Bontang memang besar. Mulai ikan hingga rumput lautnya siap untuk dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat. Keramba terapung milik Akip dan kelompok budidayanya adalah contoh bagaimana menggeluti usaha hingga berhasil dan dilirik sampai mancanegara.

Muhammad Zulfikar Akbar, Bontang

PUTRA Bontang kelahiran Bone, Sulawesi Selatan 38 tahun silam ini memang sudah lama menggeluti dunia perikanan. Pengalamannya dalam merintis usaha keramba ikan sejak 2010 ini pun tak semudah membalikkan telapak tangan. Akip harus melalui berbagai rintangan dan cobaan hingga usaha keramba ikannya bisa terus maju hingga saat ini. “Kalau kata orang, usaha yang sukses itu tak lepas dari cobaan,” ujarnya.

Akip mencoba memulai usaha tersebut dengan mengandalkan modal sekitar Rp 35 juta dan kepercayaan dengan seseorang. Mulanya, dari 500 bibit ikan kerapu yang di belinya untuk dibudidaya dan dikembangbiakkan, tampak masih ada perkembangan yang berarti. Karena letak kerambanya terapung di laut, maka Akip tak rutin menengok perkembangan usahanya. Sesekali, dia menengok dan mendapati masih sesuai dengan yang ada dalam jalan pikirannya, masih baik-baik saja.

Namun saat hendak panen, petaka pun terjadi. Dari 500 bibit tersebut, di keramba tersebut pun akhirnya tinggal menyisakan tujuh ekor ikan kerapu saja. Hati Akip pun berkecamuk tak karuan. Antara sedih, marah, dan bingung bercampur jadi satu. Sedih karena hanya menyisakan tujuh ekor dari 500 bibit yang dibudidayakannya, marah dan kesal karena ternyata kepercayaannya dimanfaatkan, serta bingung karena harus memberikan upah kepada pemberi pakan ikannya. “Tiba-tiba saja langsung habis, ludes,” katanya singkat.

Sejak itulah, Akip pun sempat vakum untuk menenangkan diri dan mencari jalan keluar untuk permasalahan tersebut. Setelah vakum, Akip ternyata makin bersemangat untuk meneruskan usahanya. Namun kini, dia memutuskan untuk membentuk kelompok tani dengan memilih sembilan anggota lainnya secara lebih selektif. “Saya tidak mau kejadian yang dulu terulang,” ujar suami dari Siti Fatimah ini.

1
2
3
BAGIKAN
loading...