Selamat Datang Kemahalan

115
Husnun N Djuraid

Oleh: Husnun N Djuraid (Dosen Universitas Muhammadiyah Malang)

Mengawali tahun 2017, pemerintah memberi kado tahun baru yang sangat pahit kepada rakyatnya. Dalam waktu bersamaan,  rakyat harus menanggung beban berbagai kebutuhan pokok, seperti BBM, listrik, biaya STNK dan BPKB. Tak ketinggalan, bahan pokok yang sangat penting seperti  lombok juga mengalami kenaikan yang sangat drastis. Bedanya, kenaikan Lombok ini mengikuti mekanisme pasar karena berbagai faktor, sedangkan kenaikan BBM, Listrik, STNK dan BPKB terjadi karena kebijakan pemerintah untuk menaikannya. Kenaikan biaya STNK dan BPKB sempat menimbulkan reaksi keras dari rakyat, ditambah lagi dengan sikap pemerintah yang tidak kompak dan saling lempar tanggung jawab.

Yang mengherankan justru kenaikan harga BBM yang mulai berlaku pada waktu yang hampir bersamaan. Mungkin baru kali ini kenaikan BBM tidak mengalami gejolak, baik menjelang, pada saat maupun sesudahnya. Kali ini pemerintah dengan tenang menaikkan harga sampai Rp 300 untuk beberapa jenis BBM. Pemerintah berkilah, yang dinaikkan itu adalah BBM nonsubsidi sedangkan BBM bersubsidi tidak naik. Jawaban itu tak lebih hanya akal-akalan, BBM bersubsidi memang tidak naik tapi sudah banyak SPBU yang tidak menjualnya. Pengusaha lebih suka menjual BBM nonsubsidi dibanding yang subsidi. Artinya sama saja, pemerintah memberi subsidi terhadap barang yang tidak ada di pasar.

Banyak alasan pemerintah mengapa harus menaikkan harga BBM, salah satunya karena harga BBM di pasar dunia juga naik. Harga BBM nonsubsidi di Indonesia mengikuti mekanisme pasar internasional. Kalau harga di pasaran internasional naik, maka harga di dalam negeri juga naik, begitu juga seharusnya sebaliknya. Dalam praktiknya tidak demikian. Saat harga minyak dunia anjlok, mengapa pemerintah tidak menurunkan harga BBM dalam negeri. Kalau ada penurunan, jumlahnya sangat kecil tidak sebanding dengan prosentase penurunan di pasaran internasional. Pada waktu itu Pertamina berkilah ingin menikmati laba yang lebih besar. Kondisi harga minyak dunia yang rendah terjadi cukup lama, sehingga Pertamina bisa mengeruk keuntungan lebih banyak.

1
2
BAGIKAN
loading...