Sempat Turun ke Pasar Cari Pasien, Bangkitkan Rumah Sakit yang Mati Suri

430
Tentang Yuniarti (IST)

 

Perjuangan Yuniarti dalam lima tahun tahun terakhir mulai membuahkan hasil. Rumah Sakit (RS) Amalia yang awalnya mati suri, kini bangkit bahkan berhasil mendapatkan akreditasi dan menorehkan prestasi nasional.

LUKMAN MAULANA, Bontang

Masih terbayang jelas dalam ingatan Yuniarti di saat-saat awal mengelola RS Amalia. Kondisi rumah sakit yang kala itu mati suri, ditambah meninggalnya sang ayah sebagai pendukung keuangan rumah sakit membuatnya sempat bingung. Dalam kondisi yang begitu terpuruk, sempat terbersit di pikirannya untuk menjual rumah sakit milik sang ayah tersebut.

“Sempat mau saya jual kembali. Karena mau bagaimana? Kondisinya seperti tidak ada harapan lagi. Membayar gaji para pegawai saja tidak bisa,” kenang Yuniarti saat ditemui Bontang Post, Rabu (4/1) kemarin.

Memang sejak kembali ke Kota Taman di 2012, sang ayah memberinya kepercayaan mengelola rumah sakit tersebut. Kala itu dia dan suami baru selesai menuntaskan pendidikan tinggi di Makassar. Lulus sarjana kedokteran di Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar tahun 2008, Yuniarti mesti menunggu hingga 2012 untuk kembali ke Bontang. Karena sang suami tengah menyelesaikan pendidikan pascasarjana di Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar.

Sebagai fresh graduate, Yuniarti begitu bersemangat mengelola RS Amalia dengan jabatan sebagai direktur. Oleh sang ayah, perempuan kelahiran Samarinda 34 tahun lalu ini memang mendapat amanah mengembangkan rumah sakit. Sementara sang ayah memberikan subsidi keuangan di awal-awal kepengurusannya. Namun malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih, sang ayah mengembuskan napas terakhirnya enam bulan sejak dia memimpin rumah sakit.

Dengan kondisi rumah sakit yang terpuruk dan ditinggal penyokong terbesar, Yuniarti bingung mesti mencari dana untuk keperluan rumah sakit. Berkali-kali permohonan pinjamannya ditolak pihak bank. Sementara gaji para pegawai, biaya listrik, air, dan operasional rumah sakit mesti dibayar. Apalagi tingkat kunjungan pasien saat itu begitu minim. Dalam satu bulan saja, tercatat hanya tiga sampai empat pasien rawat inap.

1
2
3
4
5
BAGIKAN
loading...