Menjaga Aqidah di Penghujung Tahun

120
Oleh: Wahyudi, M.Pd Aktivis HTI Bontang

 

Tinggal beberapa hari lagi tahun 2016 akan segera berakhir kemudian memasuki tahun baru 2017 Masehi. Biasanya, beraneka acara disiapkan untuk merayakan pergantian tahun baru. Namun, tampaknya penyambutan jelang tahun baru 2017 kali ini tidak tampak rame dibanding dengan tahun lalu. Para pedagang pernik-pernik tahun baru yang biasanya jauh-jauh hari sudah rame berjualan di pinggir jalan, kali ini terlihat hanya beberapa saja dan tidak banyak pembeli.

Semoga sepinya masyarakat dalam menyambut tahun baru bukan karena sekedar dampak dari lesunya perekonomian yang melanda masyarakat pada akhir tahun ini, namun lebih karena kesadaran masyarakat terhadap dampak buruk perayaan tahun baru itu sendiri pada tahun-tahun sebelumnya.

Khususnya umat Islam, sebaiknya tidak merayakan tahun baru masehi, karena perayaan tahun baru masehi bukan budaya yang lahir dari aqidah Islam, bahkan bertentangan.

Budaya meniup terompet, menyalakan kembang  api, petasan, jogetan, teriak-teriak dalam pergantian tahun baru, jelas bukan budaya Islam, tetapi budaya  Barat yang cenderung menjerumuskan mereka ke dalam kemaksiatan.

Kerapkali, pesta perayaan tahun baru dibarengi dengan menenggak minuman keras, pesta Narkoba, seks bebas, dan perilaku yang bertentangan dengan syariat Islam. Dengan kata lain perayaan tahun baru sering menjadi ajang kemaksiatan.

Tidak sedikit biaya yang dikeluarkan untuk perayaan tahun baru, terkadang sampai menelan dana puluhan juta rupiah bahkan milyaran rupiah. Jika semua uang masyarakat yang digunakan untuk membeli petasan, terompet, kembang api, dan sebagainya itu dikumpulkan, pasti berjumlah milyaran rupiah. Sementara uang sebanyak itu hanya dibakar sia-sia, tanpa berdaya guna sedikitpun. Namun jika digunakan untuk pembangunan tentunya akan lebih bermanfaat. Oleh karena itu, budaya pesta perayaan tahun baru merupakan sikap pemborosan yang bertentangan dengan Islam.

1
2
3
4
BAGIKAN
loading...