Mendekati Akhir 2016, Pengadilan Agama Sisakan 106 Perkara

59
Ilustrasi

 

BONTANG – Jelang akhir 2016, Pengadilan Agama kelas II Bontang masih menyisakan banyak pekerjaan rumah. Dari data yang dikeluarkan pengadilan, tercatat ada 106 sisa perkara sepanjang tahun ini hingga 16 Desember lalu. Sementara, di 2016 pengadilan agama menerima sekitar 547 perkara, ditambah sisa perkara pada 2015 sebanyak 97 perkara. “Ada sekitar 644 perkara yang ditangani selama 2016,” kata Humas Pengadilan Agama kelas II Bontang, Anton Taufiq Hadiyanto, Rabu (28/12).

Dari keseluruhan perkara yang ditangani, sebagian besar bersifat perkara gugatan. Sedangkan sisanya merupakan perkara yang bersifat permohonan. Meski ada sekitar 644 perkara sepanjang tahun, namun pengadilan agama juga menorehkan prestasi lain, yakni berhasil memutus sebanyak 538 perkara. Sekitar 410 diantaranya merupakan perkara gugatan. “Sedangkan sisanya, sekitar 128 perkara bersifat permohonan,” tambah Anton.

Dari keseluruhan perkara yang masuk di meja registrasi pengadilan, lebih didominasi oleh perkara cerai gugatan sebanyak 336 perkara. Sementara perkara paling sedikit berasal dari tuntutan nafkah anak sebanyak satu perkara. “Bervariasi perkara yang masuk, mulai izin poligami, harta bersama, perwalian anak, asal usul anak, isbat nikah, dispensasi nikah, dan lain-lain,” jelasnya.

Menurut Anton, adanya sisa perkara bukan berarti pengadilan lambat dalam menyelesaikan suatu perkara. Namun, perlunya proses dalam setiap perkara yang ditangani membuat waktu penyelesaian suatu perkara bisa panjang. Apalagi, pihaknya tetap menerima perkara yang masuk saat jelang akhir tahun seperti ini. “Karena Jumat itu tanggal 30 Desember, ya kami masih tetap terima perkara,” kata Anton.

Selain itu, kurang kooperatifnya para pemohon perkara maupun tergugat yang diadukan ke pengadilan semakin menambah waktu penyelesaian perkara. Anton mencontohkan, jika dalam perkara ada pihak yang berada di luar kota, maka dibutuhkan waktu satu bulan untuk memanggil pihak tersebut.

“Kalau pas ditemukan dan bersedia hadir ke muka sidang, mungkin bagus. Kalau saat sidang ada pihak yang kemudian mengajukan keberatan lagi, satu perkara bisa lama selesainya,” tuturnya.

1
2
BAGIKAN
loading...