oleh

Hilal Tak Tampak di Samarinda, Pemerintah Tetapkan Awal Puasa 17 Mei

SAMARINDA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Samarinda menyatakan pada Selasa (15/5) kemarin belum menemukan hilal. Hal itu berdasarkan titik koordinat pemantauan di Masjid Islamic Center Kaltim.

Kepala BMKG Samarinda, Sutrisno menuturkan, setelah matahari terbenam kemarin, tinggi hilal berada di angka minus satu derajat, enam menit, dan 55 detik. Artinya hilal berada lima derajat di sebelah selatan matahari. Sedangkan matahari terbenam pada pukul 18.12 Wita.

“Hilal mendahului terbenamnya matahari, karena masih minus. Jadi di Samarinda tidak akan muncul hari ini (kemarin, Red.),” ungkap Sutrisno di hadapan awak media.

Dia menyebut, pada Rabu (16/5) ketika matahari terbenam, tinggi hilal berada di angka sebelas derajat, 18 menit, dan 22 detik. Posisi hilal lebih kurang dua derajat di sebelah selatan matahari.

“Ini terdapat bintang Aldebaran dengan posisi kurang dari lima derajat. Jadi sangat dekat dengan posisi hilal. Karena jangan-jangan bukan hilal yang dilihat tetapi bintang. Ini yang harus diperhatikan. Tetapi insyaallah besok (hari ini, Red.) hilal sudah bisa dilihat di Samarinda. Itu kalau dilakukan rukyat,” ucapnya.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Samarinda, Zaini Naim menuturkan, pihaknya sudah mengeluarkan fatwa bahwa penetapan awal Ramadan ditentukan pemerintah. Karena itu, penentuan awal puasa ditentukan Kementerian Agama (Kemenag) melalui sidang isbat.

“Kenapa melalui sidang isbat? Karena penentuan awal Ramadan itu terjadi perbedaan pendapat antara hisab dan rukyat. Maka sesuai dengan kaidah ushul fiqh, al-ijtihat laa yunqodu bil ijtihat. Artinya pendapat satu tidak boleh mengalahkan pendapat lainnya. Harus saling menghormati pendapat,” ujarnya.

Atas dasar itu, dia berpendapat, perbedaan pendapat terkait penentuan awal Ramadan tersebut menjadi dasar bagi umat Islam. Karena keputusan pemerintah dapat menyelesaikan perbedaan pendapat.

Bagikan berita ini!
  • 4
    Shares

Komentar