oleh

Bela Diri atau Bunuh Diri?

CATATAN LUKMAN MAULANA

Redaktur Bontang Post

BEBERAPA waktu lalu, publik Bumi Etam dikejutkan dengan kabar seorang remaja yang tewas terlindas mobil pikap. Yang membuat miris, remaja tersebut mengembuskan napas terakhirnya dalam sebuah atraksi bela diri di suatu momen perpisahan sebuah sekolah menengah di Berau. Ya, dilindasnya sang remaja nahas merupakan bagian dari atraksi tersebut.

Tentu ini merupakan hal yang sangat disayangkan semua pihak. Seorang remaja yang masih memiliki masa depan cerah mesti berakhir di bawah roda. Memang hal ini bisa diketagorikan sebagai kecelakaan dengan unsur kelalaian, namun latar belakang terjadinya kasus inilah yang patut menjadi perhatian banyak pihak.

Atraksi unjuk kebolehan diri dengan menantang nyawa bukan hal baru dalam pertunjukan seni di Indonesia. Kebanyakan dilakukan para profesional bela diri atau pesulap yang telah berpengalaman puluhan tahun. Bahkan tak jarang bila atraksi seperti ini dibumbui hal-hal berbau mistis. Sehingga dalam setiap pertunjukan tersebut, selalu dipesankan bahwa adegan-adegan yang dilakukan merupakan adegan berbahaya sehingga diharap untuk tidak melakukannya di rumah.

Maka, cukup menjadi pertanyaan bila remaja 16 tahun yang dalam hukum negara dikategorikan masih di bawah umur lantas terlibat dalam aksi menantang maut. Tak main-main, bersama rekan-rekannya yang lain, tubuh kecil sang remaja mesti dilindas oleh pikap yang sudah tentu berat.

Wajar sebelum aksi dimulai, perasaan bergidik menghampiri mereka yang menyaksikan. Khawatir terjadi hal yang tak diinginkan pada si bocah. Walaupun dalam pendampingan orang dewasa, kecemasan itu sulit akan lepas. Benar saja, setelah mobil melintasi enam remaja, dua di antaranya yang berada paling depan terlihat lemas. Tragisnya, itulah akhir dari remaja 16 tahun yang pertama kali dilindas pikap.

Bagikan berita ini!
  • 12
    Shares

Komentar