Peminta-minta Marak di Trans Kaltim, Sering Maksa jika Tidak Diberi Uang

112
GANGGU PENGENDARA: Keberadaan para peminta sumbangan di sepanjang jalur trans Kaltim sering menghambat arus lalu lintas. (Najib/KALTIM POST)

TANA PASER – Jalur trans Kaltim yang berada di wilayah Kabupaten Paser, khususnya dari Kecamatan Batu Sopang, hingga perbatasan Kalsel, banyak yang rusak. Warga pun menumpuk tanah di sekitar jalan dan seolah-olah sedang menambal lubang. Kemudian, mereka meminta sumbangan kepada pengendara.

Menurut Anggota DPRD Paser Ambo Pendrei, keberadaan warga yang meminta sumbangan di jalan serta menumpuk tanah, justru menghambat arus lalu lintas. Pasalnya, tanpa harus ditumpuk tanah atau material, jalan masih bisa dilalui.

“Justru menambah kemacetan, bahkan terkadang sering memaksa meminta,” kata Ambo, Kamis (19/1).

Dia menyampaikan hal itu karena dikeluhkan banyak pengendara lintasprovinsi, mulai kendaraan pribadi hingga bermuatan. Para sopir, tutur dia, kerap menyampaikan hal itu ketika bersua dengan mereka.

“Saya berharap, instansi terkait segera menindaklanjuti keluhan itu. Baik dari pemerintah daerah maupun aparat berwenang,” ujar politikus Golkar itu.

Sementara itu, Kabid Pengendalian Operasional Manajemen Lalu Lintas, Dinas Perhubungan (Dishub) Paser Suryawan mengatakan, jajarannya hanya mengawasi jaringan serta rambu-rambu keselamatan. Perbaikan merupakan kewenangan Dinas Pekerjaan Umum (PU).

“Untuk penindakan seperti yang dimaksud Pak Ambo Pendrei,  ada di kepolisian, karena termasuk gangguan lalu lintas,” terang Suryawan.

Kasat Lantas Polres Paser AKP Hendro Wibowo menyatakan, telah sering memberikan imbauan kepada warga yang menimbun tanah dan meminta sumbangan. Yang disayangkan, mayoritas pelakunya adalah anak di bawah umur yang bukan merupakan warga sekitar.

“Apalagi, saat itu menjadi urusan perut (mata pencaharian utama). Di sini kebimbangan aparat. Yang jelas, sangat salah jika memintanya dengan gelagat memaksa, apalagi menimbun tanah yang berdampak pada kemacetan. Selama sopir memberinya dengan ikhlas, itu tidak masalah. Namun, jika sopir harus memberi dengan syarat tertentu atau paksaan, akan kami tertibkan, dan menelusuri pelakunya,” terang Hendro. (*/jib/ica/k8)