Perjuangan Nandang Yang Jajakan Pisau hingga Tanah Seribu Sungai

98
JALAN HIDUP: Nandang dengan barang-barang dagangannya, berbagai jenis kerajinan benda tajam. (LUKMAN/BONTANG POST)

 

Bersabar Dengar Protes Sang Istri, Bersyukur Bisa Tetap Makan

Pria berkumis dengan kaus abu-abu itu berdiri dari duduknya di teras masjid besar kawasan Bontang Baru. Kakinya melangkah hingga batas teras, sandal-sandal berjejer di bawahnya. Cepat diketuknya sebatang rokok di ruas dua jari tangan kanannya. Abu-abu rokok berjatuhan ke bawah, sementara kepala pria tersebut mendongak ke atas. Memastikan tetesan-tetesan air mata langit tak lagi jatuh ke bumi.

LUKMAN MAULANA, Bontang

Nandang, begitu nama pria berkulit gelap itu tercetak di kartu tanda penduduk. Sudah beberapa kali pria berambut pendek nan rapi itu bolak-balik dari tempatnya duduk ke luar masjid demi membuang abu rokok yang dihisapnya. Hujan deras yang mengguyur Kota Taman sejak waktu salat zuhur membuatnya tertahan di masjid.

“Takut berkarat,” bisiknya lirih seraya menunjuk sebuah tas hitam panjang yang menempel di dinding masjid.

Beberapa bilah pisau panjang tampak tersusun rapi dalam untaian tali yang mengikat menjadikannya satu di samping tas tersebut. Semuanya tertutup rapat sarung kayu mengkilat, termasuk pisau-pisau yang gagangnya menjuntai dari dalam kantong samping tas tersebut. Sementara di atas tas yang terbuka itu, terbaring lima pedang panjang dengan beragam bentuk, salah satunya yang menyerupai pedang samurai khas negeri matahari terbit.

“Samurai yang paling mahal, Rp 600 ribu. Kalau yang paling murah mah pisau, Rp 75 ribu,” jelasnya dalam logat Sunda yang kental.

Benda-benda tajam itu memang menjadi barang dagangan Nandang. Kesehariannya menawarkan berbagai jenis benda tajam baik untuk keperluan sehari-hari maupun kesenian atau koleksi. Untuk kebutuhan dapur dan kebun misalnya, ada pisau, parang, dan golok tajam dengan sarung yang terukir indah. Sedangkan bagi para kolektor, apa yang ditawarkan Nandang bisa jadi bikin terpesona.

1
2
3
4
BAGIKAN