33 Tahun jadi Penyiar, Pernah Siaran di Kontainer 

82
Hassan  (Muhammad Zulfikar/Bontang Post)

 

Kisah Inspiratif Warga Bontang: Hassan (135)

Siapa yang sangka bermula dari hobi mendengarkan siaran radio saat di bangku sekolah, kini dia menjadi satu-satunya penyiar senior di Kota Taman. Lebih dari 33 tahun menjadi penyiar, jadi bukti konsistensi Hassan bergelut di dunia penyiaran.

Muhammad Zulfikar Akbar, Bontang

ENTAH apa yang membawa Hassan jatuh cinta pada radio. Selain bisa berimajinasi siapakah gerangan yang membawakan siaran radio, suara para penyiarnya yang enak di dengar serta kebiasaan menyapa para pendengar jadi alasan pasti mengapa pria berusia 50 tahun ini akhirnya memutuskan menjadi penyiar.

Hobi mendengarkan radio ini pun sudah tumbuh sejak dirinya duduk di bangku SMP. “Kalau sekolah sampai saya bawa radionya ke dalam kelas, sampai di tegur oleh guru,” ujar Hassan.

Penasaran bagaimana rasanya menjadi seorang penyiar, Hassan pun nekat mencoba siaran di radio amatir atau radio gelap. Pada saat itu, radio amatir merupakan radio yang tak punya izin dari pemerintah.

Pun dengan urusan frekuensi, radio amatir tidak menggunakan frekuensi frequency modulation (FM), melainkan frekuensi amplitude modulation (AM). Ternyata, pengalaman pertama Hassan melakukan siaran dinilainya tak semudah seperti yang dibayangkan. “Baru di depan mic, semua serasa blank, bingung mau ngomong apa, bahkan sampai gemetaran. Padahal tidak ada yang lihat,” kenangnya.

Untuk mengatasi ketegangan, Hassan akhirnya membuat teks terlebih dahulu sebelum dibacakan saat siaran. Selain itu, berbagai tulisan di koran juga menjadi bahan bacaan Hassan dalam berlatih menjadi penyiar.

Lama kelamaan, latihan Hassan mulai membuahkan hasil. Dirinya pun mulai fasih dalam membawakan siaran, bahkan tanpa teks sekalipun. “Sejak itu akhirnya makin ketagihan menjadi penyiar, bahkan jadi punya fans dimana-mana, he he,” katanya sambil terkekeh.

1
2
3
4
BAGIKAN