Waduh… Jaringan Migas Terancam Putus

248
Ilustrasi

BALIKPAPAN-Objek vital nasional (obvitnas) di Sangasanga, Kutai Kartanegara menjadi ancaman serius bagi kelangsungan produksi minyak dan gas (migas) PT Pertamina EP Asset 5 Field Sangasanga. Penambang ilegal disebut tak pernah kendur mengeruk batu bara dari perut bumi. Fatalnya, aktivitas mereka berada di jaringan sumur produksi BUMN tersebut.

Kepala Urusan Operasi, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas (SKK) Migas Kalimantan Sulawesi (Kalsul) Roy Widhiarta menyebut, keberadaan tambang ilegal itu sangat berpotensi memutus jaringan pipa migas karena digaruk alat berat. Selain itu, bisa menyebabkan terjadinya blowout (semburan minyak tak terkendali).

Terlebih, dalam kasus penambangan ilegal tersebut bukan kali pertama. Roy menjelaskan, dalam kasus sebelumnya, penindakan terkendala izin pertambangan yang masih berlaku. Sehingga ketika dilaporkan ke pihak kepolisian, sulit dilakukan penindakan. “Tapi kasus yang terbaru ini ternyata ‘kan diidentifikasi banyak yang ilegal atau tak berizin,” ujarnya.

Pada Agustus tahun lalu, penambangan ilegal tersebut terungkap. Rumah karyawan Pertamina Sangasanga di Hilltop (housing), Kelurahan Sangasanga Dalam rusak akibat tambang ilegal tersebut.

Keberadaannya juga mengancam sumur minyak (kepala). Namun, setelah Wakapolda Kaltim saat itu dijabat Brigjen Pol Hendrawan datang ke lokasi tersebut, 30 Agustus 2016, penambangan ilegal sempat berhenti. Meski akhirnya mereka bisa curi-curi melakukan penambangan. Pada awal tahun ini, penambangan ilegal kembali dilakukan.

SKK Migas sendiri memang domainnya bukan pada penindakan. “Kami hanya bisa melakukan laporan keberatan ke Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kaltim (dulu Distamben) yang menjadi pengawas di industri pertambangan. Kami juga melapor kepada pihak kepolisian, tinggal nanti tindak lanjutnya seperti apa. Hingga kini kami masih melakukan koordinasi,” tambahnya.