Inilah Jejak Hitam Kapten Perampokan Sadis

333
TKP pembunuhan sadis di Pulomas. Foto dok JPG/JPNN.com

JAKARTA – Penangkapan pembunuhan sadis yang menewaskan enam orang di Pulomas berawal dari hasil pemeriksaan rekaman Closed Circuit Television (CCTV), di kediaman korban.
Dalam rekaman itu diketahui perampokan dilakukan oleh empat pelaku. Keempat pelaku menggunakan topi serta kaca mata hitam. Gelagat mereka cukup tenang saat masuk ke rumah yang beralamat di Jalan Pulomas Utara 7A tersebut.
Ketika itu pintu pagar rumah dalam kondisi tidak terkunci. Pelaku masuk dengan cara mengetuk pintu ruang tamu.”Setelah pintu itu dibuka oleh pembantu, pelaku langsung menyandera pembantu itu,” ucap dia.

Iriawan mengatakan, awalnya saat menganalisa CCTV itu petugas cukup kewalahan. Pasalnya, topi dan kacamata pelaku menghalangi analisa identitas keempatnya. ”Sulit mengenali pelaku karena pakai topi dan kacamata,” ujarnya jenderal bintang dua tersebut.

Namun polisi tidak kehabisan akal. Pemeriksaan dilakukan lebih detil, salah satu yang membuat polisi bisa mengenali pelaku adalah cara jalannya. ”salah seorang pelaku jalannya pincang. Cara jalan pelaku yang pincang itu membuat petugas menduga pelaku adalah Ramlan,” terangnya.

Ramlan merupakan penjahat kambuhan. Ramlah telah berulangkali masuk penjara karena melakukan kriminal. Petualangan kejahatan kali pertamanya terendus pada tahun 2001 lalu. Kejahatannya saat itu sama seperti sekarang, perampokan dengan kekerasan. ”Terakhir Ramlan merampok WN Korea di depok 2012 lalu. uang sebesar Rp 200 juta berhasil dikurasnya. Dan waktu itu belum tertangkap dan berstatus DPO,” paparnya.

Ramlan dikenal sebagai perampok kelas kakap. Dia hanya mengicar perhiasan, uang, dan benda – benda berharga. Alasanya karena barang – barang tersebut mudah dijual cepat dengan harga tinggi. ”Kalau kendaraan lebih lama proses jualnya,” tuturnya Mantan Kadivpropam Mabes Polri tersebut.

Iriawan mengatakan, dugaan awal motif pembunuhan itu murni perampokan, namun masih perlu dikembangkan. Kemungkinan pelaku panik karena jumlah penghuni rumah yang cukup banyak. Para pelaku akhirnya memutuskan menyekap penghuni rumah di kamar mandi. Tujuannya agar mereka bebas melakukan aksinya itu.  ”Jadi senpi dan sajam itu digunakan untuk menakuti korban. Bukan digunakan untuk membunuh. Karena korban tewas akibat kekurangan oksigen,” tambah dia.

Komentar