Akuntan Besar yang Sering Tolak Fee Besar

136
AKUNTAN TERKEMUKA: Mustofa (duduk kanan) bersama istri saat pernikahan putrinya, Dian Paramita (tiga dari kiri), 18 Desember lalu.

Oleh: Dahlan Iskan

Banyak yang merasa kehilangan atas meninggalnya Pak Mustofa di Jakarta kemarin siang. Istri dan ketiga anaknya sudah tentu. Unair, almamaternya. Universitas Brawijaya, yang dia pendiri jurusan akuntansinya.

Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), yang dia salah satu tokoh utama dan pernah jadi Sekjennya. Dunia golf, yang dia salah satu penggilanya. Jawa Pos, yang dia jadi penasihat keuangannya. Dan saya, sahabatnya.

Pak Mustofa akuntan terkemuka Indonesia. Besar namanya, tinggi reputasinya. Dia sering menolak menjadi akuntan perusahaan besar dengan fee bermiliar-miliar karena, katanya, perusahaan itu tidak mau menuruti doktrin akuntansi yang benar.

Kapan itu Pak Mustofa mengatakan sangat sedih mendengar saya dijadikan tersangka kasus korupsi oleh Kejati Jatim. Kami memang sering mendiskusikan bobroknya hukum kita. Inilah SMS-nya 24 Oktober lalu.

”Keyakinan sy Pak Dahlan gak mungkin berbuat untuk kerugian negara. Aplg untuk memperkaya diri. Kita ini kan dari dulu sudah merasa kaya dan tidak kekurangan, kerja karena hobby saja hahaha…”

Persis sebulan lalu ketika mendengar saya ditahan, Pak Mustofa kirim SMS berikut ini. ”Yang jelas Pak Dahlan tidak terbukti terima apa pun dan tidak memperkaya orang lain. Doa saya untuk Bpk. Saya nangis, Pak. Negara kok penuh fitnah.”

Menerima SMS seperti itu, saya terharu. Kok dia masih memikirkan saya di tengah perjuangannya sendiri melawan kanker ganas di ususnya. Maka saya jawab dengan kebiasaan kalimat saya: ”Seberat-berat yg saya hadapi saat ini, sy bayangkan, masih lebih berat yg dihadapi Pak Mus. Jadi saya terus doakan Pak Mus. Sy merasa enteng menghadapi persoalan saya karena saya kan tidak melakukannya. Enteng, Tenang, dan Sabar!”

1
2
3
4
BAGIKAN