Menilik Antioksidan dalam Makanan

97

Oleh:
Mahleti Delasita DA dan Aida Fadhilah (Mahasiswa IPB asal Bontang Jurusan Ilmu dan Teknologi Pangan)

Siapa yang tak kenal antioksidan? Senyawa pencegah reaksi oksidasi ini dikenal sebagai penangkal radioaktif yang baik bagi tubuh. Dengan mengonsumsi bahan pangan yang kaya dengan antioksidan, penyakit-penyakit kronis degeneratif seperti kanker dan jantung koroner dapat dicegah dan ditekan resiko terjangkitnya. Namun, tahukah Anda jika antioksidan pun diperlukan dalam makanan? Lalu, apa bedanya antioksidan bagi makanan dan tubuh manusia? Ternyata, tidak semua antioksidan dalam pangan olahan memiliki fungsi sebagai antioksidan yang dibutuhkan oleh tubuh manusia dalam melawan radikal bebas. Bahkan, konsumsi antioksidan secara berlebihan tidak baik bagi tubuh Anda.

Antioksidan vs Oksidasi

Tekanan dan tuntutan untuk menjadi serba cepat dan instan di zaman modern ini kerap kali membuat kita stres. Tak pelak lagi jika kita pun menyukai segala yang instan, termasuk makanan yang akan kita konsumsi. Kombinasi dari stres secara psikologis, polusi udara yang semakin pekat, dan pola makan yang terlalu banyak mengonsumsi makanan olahan instan (mi instan, kornet siap saji, dll) ternyata dapat menimbulkan stres oksidatif di dalam tubuh kita. Masalahnya, stres oksidatif yang terjadi dalam tubuh berperan besar dalam terjadinya proses penuaan dan berbagai penyakit degeneratif seperti kanker, diabetes melitus, dan jantung koroner.

Stres oksidatif yang terjadi ini disebabkan oleh adanya radikal bebas yang memacu terjadinya oksidasi di dalam tubuh. Oksidasi yang terjadi di dalam tubuh dapat memicu rusaknya sel-sel tubuh yang menyebabkan metabolisme tubuh tidak bekerja seperti yang seharusnya. Hal inilah yang kemudian menimbulkan penyakit-penyakit degeneratif yang menjadi penyebab kematian utama masyarakat modern belakangan ini.

1
2
3
4
5
BAGIKAN

Komentar