Kesakitan Saat Bicara, Hanya Bisa Makan Bubur Halus

76
PASRAH: Lakateng dan istrinya Nurhidayah kesulitan biaya untuk melakukan pengobatan di Samarinda. (Lukman/Bontang Post)

Derita Lakateng, Setahun Hidup dengan Kanker Lidah

Lagi-lagi ketiadaan biaya akomodasi selama berobat di Samarinda menjadi penyebab tidak tertanganinya penyakit yang diderita warga Kota Taman. Lakateng, warga RT 25 Kelurahan Satimpo mesti mengisi hari-harinya dengan derita kanker ganas yang bersarang di lidahnya.

Diam dan membisu, itulah yang terlihat kala Bontang Post membesuknya di kediamannya yang sederhana berdindingkan kayu di Jalan HM Ardans. Tak ada satupun kata yang keluar dari mulutnya, hanya sang istri Nurhidayah yang mengisahkan ihwal bagaimana sang suami mengidap tumor ganas yang berkembang menjadi kanker di lidah tulang punggung keluarganya tersebut.

Awalnya, pria yang sehari-hari menjadi buruh kebun ini mengira rasa sakit yang dialaminya di bagian lidah merupakan seriawan biasa. Karenanya, pria berkulit gelap ini lantas memeriksakannya ke RSUD Taman Husada Bontang. Di sana dia mendapat obat seriawan. Namun, karena tidak sembuh-sembuh, akhirnya di bulan Januari silam dia dirujuk ke RSUD AW Sjahranie Samarinda.

“Di sana baru ketahuan kalau suami saya menderita kanker lidah dan disarankan untuk kemoterapi,” kisah Nurhidayah.

Sejak saat itu mulailah hari-hari pria kelahiran Pinrang 41 tahun ini menjalani pengobatan kemoterapi setiap bulannya. Tercatat di sepanjang tahun, Lakateng menjalani enam kali kemoterapi. Meski biaya kemoterapi dibebankan lewat jaminan kesehatan daerah (Jamkesda), namun ketiadaan biaya akomodasi selama menjalani kemoterapi di Samarinda membuatnya tak mampu melanjutkan pengobatan.

“Setiap bulan bapak mesti pergi bolak-balik Samarinda untuk kemoterapi. Setiap kali kami kesana mesti menyiapkan uang sekitar Rp 1 juta lebih untuk biaya hidup selama berobat di sana. Sekali kemoterapi bisa sampai satu pekan. Ini yang kami tidak sanggup,” kata sang istri dengan tatapan berkaca-kaca.

1
2
3
BAGIKAN

Komentar