Jual Bakso 31 Tahun, Hidupi Keluarga dan Pergi Haji

99
Paijo bersama istrinya, Jamilatun. (Zulfikar/Bontang Post)

Kisah Inspiratif Warga Bontang: Paijo Sasikirono (113)

Bermodal ijazah sekolah menengah, lelaki yang kini paruh baya ini merantau dari Sragen ke Bontang membawa serta keluarganya, 1980an silam. Meski sempat bekerja harian di suatu perusahaan, dirinya kemudian nekat untuk berdagang bakso solo, tanpa keterampilan dan modal besar.

Muhammad Zulfikar Akbar, Bontang

PAIJO Sasikirono mendatangi tetangganya yang mendahuluinya berdagang bakso. Berniat ingin belajar bagaimana membuat makanan khas Solo yang enak di lidah. Namun, karena kepentingan usaha, hanya sedikit ilmu yang dapat diperolehnya. Paijo pun nekat memulai usaha baksonya pada 1985. “Waktu itu jualannya masih dorong pakai rombong, keliling sekitar Loktuan,” kata Paijo.

Dirinya pun menggiling atau membuat adonan baksonya secara mandiri dengan ditumbuk-tumbuk hingga berbentuk adonan bakso. Untuk memulai usaha ini, Paijo mengeluarkan modal sekitar Rp 25 ribu yang berasal dari upah saat dirinya bekerja harian di perusahaan. Panas dan debu, hingga basah karena hujan pernah dirasakannya selama berdagang dengan rombongnya.

Tak hanya karena cuaca saja. Loktuan yang kala itu kehidupannya “keras”, pemuda-pemudanya yang sebagian sering melakukan hal negatif sempat membuat takut dirinya saat berdagang. Terlebih, dia mendengar kejadian ada pedagang bakso yang sempat menjadi korban aksi negatif sekelompok pemuda kala itu. Ternyata, kekhawatiran Paijo terlalu berlebihan. Hingga kini, dirinya tak pernah merasa dikerjai oleh mereka. “Paling-paling saat mereka mabuk, minta air mineral saja. Ya saya kasih, he he,” ujarnya sambil terkekeh.

Tak lama Paijo berdagang dengan rombongnya. Bersama dengan istrinya, Jamilatun selalu menemani suaminya berdagang saat mereka memutuskan menyewa tempat di dekat Pasar Senggol waktu itu. Letaknya yang berdekatan dengan bioskop masa itu membuat dagangannya cepat dikenal. Namun, karena masyarakat sekitar Loktuan kebanyakan berasal dari Bugis, mereka pun belum begitu mengenal bakso yang dijajakan Paijo. “Jadi mereka hanya lihat saja, tidak beli baksonya,” kenang pria berumur 64 tahun ini.

1
2
3
BAGIKAN