Putra Kutim Jadi Sutradara Film Diary of Sara

78
PUTRA KALTIM: Hendra Wijaya ( kanan) Sutradara film Diary of Sara.(Ist)

 

Film Tentang Bahaya HIV AIDS

SANGATTA- Seluruh masyarakat Kabupaten Kutai Timur (Kutim) patut berbangga, sebab bakat sinematografi ternyata tidak hanya dimiliki warga di kota besar saja. Buktinya Hendra Wijaya, pemuda asli dari Kecamatan Rantau Pulung berhasil memproduksi sebuah film berjudul  Diary of Sara.

Film yang secara garis besar menceritakan bahaya HIV AIDS berikut bagaimana menyikapi para penderitanya ini semakin kental nuansa Kutim karena melibatkan artis putra putri dari daerah ini. Tergabung dalam Best Production dan didukung oleh rumah produksi nasional, Dawai Cinema Production. Hendra mengatakan sebelum film itu diproduksi, beberapa bulan yang lalu ia memulai penulisan, persiapan mencari aktor dan aktris hingga mempersiapkan pra produksi dan produksi.

“Pemain (aktor dan aktris) yang terlibat total kurang lebih 19 orang. Di luar dari pemeran figuran-figuran yang ada. Film ini bercerita tentang pengidap penyakit HIV AIDS,” jelasnya saat launching film pukul 16.00 Wita di Gedung Serbaguna, Senin (19/12) kemarin.

Film dibuat sebagai suatu pesan kepada masyarakat bahwa orang yang terkena HIV itu tidak perlu dijauhi, khususnya keluarga terdekat. Karena cara penularannya pun tidak seperti penyakit-penyakit yang lain. Karya ini juga merupakan wujud kampanye hari AIDS sedunia.

Hendra mengaku masih akan mengerjakan project film lainnya. Masih mengangkat potensi film daerah, salah satunya tentang kebudayaan Dayak. Seperti tentang profil mantan Wakil Gubernur Kaltim Yurnalis Ngayoh di Samarinda. Ada sekitar empat film yang rencananya akan dibuat. Khusus untuk biaya produksi film Diary of Sara sendiri, mencapai sekitar kurang lebih Rp 600 juta.

“Semoga dengam adanya film Diary of Sara ini membangunkan para sineas Kalimantan Timur untuk bisa berkarya terutama di bidang perfilman. Karena untuk kualitas adik-adik yang ada di daerah tidak kalah dengan yang ada di kota-kota besar. Hanya tinggal wadahnya saja, karena kita butuh wadah untuk mengasah keterampilan mulai dari bakat ekting sampai dengan sinematografi,” kata Hendra yang asli Dayak ini.

1
2
BAGIKAN