Waduh… Likuiditas Perbankan Terus Memburuk

44

JAKARTA-Likuiditas perbankan hingga penghujung tahun ini masih bakal mengetat. Itu terefleksi dari lonjakan rasio kredit terhadap simpanan (LDR) akhir September 2016 tercatat 91,71 persen. Itu sebagai bukti sahih dan clue paling realistis melihat likuiditas perbankan bukan semakin longgar.

Kepala Eksekutif Bidang Pengawasan Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nelson Tampubolon menilai likuiditas perbankan tertekan itu bakal memicu perlambatan pertumbuhan kredit. ”Sampai akhir tahun ini likuiditas perbankan akan tetap tertekan. Tahun ini, likuiditas menurun, tetapi secara kondisi masih normal,” tutur Nelson.

Meski begitu, tahun depan kondisi likuiditas perbankan bakal kembali membaik. Itu tidak lain karena akan dipengaruhi program amnesti pajak (Tax Amnesty). ”Kami bersyukur tax amnesty cukup berhasil. Faktor itu menjadi modal awal industri perbankan untuk menghadapi kondisi likuiditas tahun depan,” ucapnya.

Nelson melanjutkan, program amnesti pajak menjadi oase di tengah kondisi perbankan dalam tekanan. Pengampunan pajak menjadi senjata ampuh dan menjelma sebagai katalisastor menggairahkan perekonomian nasional. ”Proyek amnesti pajak pastinya membawa dampak positif. Itu sangat membantu roda ekonomi,” tegasnya.

Sementara Sekretaris Perusahaan Bank Negara Indonesia (BBNI) Ryan Kiryanto menambahkan pertumbuhan kredit tahun ini juga terus mengalami tren penurunan. Bahkan, hingga akhir kuartal tiga 2016 hanya sebesar 6,5 persen. Kondisi itu lebih rendah dari proyeksi Bank Indonesia (BI) di kisaran 7-9 persen. ”Dana Pihak Ketiga (DPK) juga terus melambat,” tukas Ryan. (far/JPG)

BAGIKAN